Vitamin B1 (Tiamin) yang Diserap di bagian Duodenum dan Jejunum.




A. Pengertian Vitamin B1/Tiamin
Tiamin atau Vitamin B1 adalah jenis vitamin B pertama yang ditemukan oleh para ilmuwan. Tiamin tersusun dari pirimidin tersubsitusi yang dihubungkan oleh jembatan metilen dengan tiazol tersubsitusi. Bentuk aktif dari tiamin adalah tiamin difosfat, di mana reaksi konversi tiamin menjadi tiamin difosfat tergantung oleh enzim tiamin difosfotransferase dan ATP yang terdapat di dalam otak dan hati. Tiamin difosfat berfungsi sebagai koenzim dalam sejumlah reaksi enzimatik dengan mengalihkan unit aldehid yang telah diaktifkan yaitu pada reaksi :
1. Dekarboksilasi oksidatif asam-asam á - keto ( misalnya á- ketoglutarat, piruvat, dan analog á - keto dari leusin isoleusin serta valin).
 2. Reaksi transketolase (misalnya dalam lintasan pentosa fosfat).
Bentuk utama tiamin yaitu Tiamin difosfat atau tiamin pirofosfat (TTP). Jumlahnya di dalam tubuh berkisar 80%. Bentuk lain tiamin yakni tiamin monofosfat (tiamin inaktif) dan tiamin trifosfat (fungsinya belum dipahami baik oleh para ilmuwan).


gambar 1 : struktur Vitamin B1/Tiamin
Tiamin (vitamin B1) bentuk murninya adalah tiamin hidroklorida. Tiamin tidak dapat disimpan banyak oleh tubuh, tetapi dalam jumlah terbatas dapat disimpan dalam hati, ginjal, jantung, otak, dan otot. Bila tiamin terlalu banyak dikonsumsi, kelebihannya akan dibuang melalui air kemih. Tiamin aktif dalam bentuk kokarboksilase dikenal sebagai tiamin pirofosfatasse (TPP). Pada prinsipnya tiamin berperan sebagai koenzim dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi dari karbohidrat dan memindahkan energi membentuk senyawa kaya energi yang disebut ATP (Adenosin Trifosfat).

B. Penyerapan Vitamin B1
Vitamin B1 atau tiamin adalah jenis vitamin B yang berfungsi untuk mengubah asupan karbohidrat menjadi energi. Karena vitamin B1 larut air, vitamin ini akan dibawa oleh aliran darah untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Khususnya untuk menjaga fungsi sistem saraf, jantung, dan otot agar bekerja dengan baik. Setelah diserap, tiamin disimpan didalam hati dan akhirnya akan dikeluarkan melalui urine. Penyerapan tiamin oleh usus kecil dimediasi oleh sistem transport dan diambil oleh sel-sel dalam hati, jantung, dan berbagai jaringan lain dari darah, dengan pengecualian jaringan saraf, di mana tiamin diangkut dari darah ke dalam cairan serebrospinal melalui sawar darah-otak. Jika sudah dalam sel, transportasi lebih lanjut terjadi melalui mitokondria dan membran inti. Kurangnya transporter fungsional menyebabkan anemia megaloblastik yang responsif tiamin.  Setelah tiamin  diperoleh, dengan cepat dikonversi ke bentuk aktifnya (tiamin pirofosfat) di otak dan hati oleh enzim spesifik, tiamin difosokinase.

C. Fungsi Vitamin B1
Vitamin B1 atau tiamin merupakan salah satu yang dibutuhkan untuk menimbulkan nafsu makan dan membantu penggunaan karbohidrat dalam tubuh dan sangat berperan dalam sistem saraf. Tiamin, dikenal juga dengan B1 atau aneurin, sangat penting dalam metabolisme karbohidrat. Peran utama tiamin adalah sebagai bagian dari koenzim dalam dekarboksilasi oksidatif asam alfa-keto.
Tiamin memiliki fungsi untuk aktivitas saraf dan tonus otot serta metabolisme karbohidrat. Namun tubuh tidak dapat menghasilkan tiamin, oleh karena itu tiamin merupakan salah satu nutrisi yang penting. Selain berfungsi dalam metabolisme karbohidrat, tiamin menghasilkan respon imun protektif.
Tiamin memainkan peran penting dalam metabolisme di otak. Otak menggunakan glukosa sebagai bahan bakar utama untuk pembangkit energi. Glukosa memasuki otak dengan difusi melintasi penghalang darah-otak. Sekitar 30% glukosa yang diserap otak mengalami oksidasi lengkap melalui siklus Krebs. Tiga enzim tiamin bebas  sangat penting untuk metabolisme glukosa otak menggunakan tiamin pirofosfat sebagai kofaktor, hitungan untuk 80% dari total tiamin yang ada di jaringan saraf ditemukan di sistem saraf pusat dan perifer. Adapun fungsi koenzimatik dalam metabolisme, tiamin juga memiliki peran struktural. Terlibat dalam struktur dan fungsi membran, termasuk axoplasmic, membran mitokondria, dan sinaptosom, bertindak melawan sitotoksisitas yang diinduksi agen, dan memperbaiki situs membran. Ini mengintervensi transmisi sinaptik dan berperan dalam seluler diferensiasi, pembentukan sinaps, pertumbuhan aksonal, dan myelinogenesis.
Fungsi Vitamin B1 secara umum yakni :
1.      Berperan sebagai koenzim  dalam reaksi metabolik tubuh seperti dalam reaksi pembakaran karbohidrat untuk dijadika energi.
2.      mendukung kesehatan sel saraf khususnya pada bagian konduksi dan transmisi sinaps serta pada kanal ion Cl.
3.      Berpotensi mengurangi stress oksidatif dan dalam proses detoksifikasi  tubuh. Selaim itu, dapat membantu dalam daur ulang vitamin K

D. Sumber Vitamin B1
Sumber tiamin yang baik sebetulnya bijibijian, seperti beras PK (pecah kulit) atau bekatulnya. Karena derajat penyosohan yang tinggi, bagian penting tersebut biasanya juga hilang dan kini dimulai usaha fortifikasi biji-bijian dengan tiamin. Daging, unggas, ikan, dan telur sumber vitamin B1, sayur dan buah kadar tiaminnya kecil. Tiamin didapati hampir pada semua tanaman dan jaringan tubuh hewan yang lazim digunakan sebagai makanan, tetapi kandungannya biasanya kecil .Biji-bijian yang tidak digiling sempurna dan daging merupakan sumber tiamin yang baik. Tiamin dapat dihasilkan oleh bakteri, jamur, dan tumbuhan. Adapun hewan hanya dapat menggunakan. Penyerapan terdapat di duodenum dan jejenum bagian proksimal Penyakit beri-beri disebabkan oleh diet kaya karbohidrat rendah tiamin,misalnya beras giling atau makanan yang sangat dimurnikan seperti gula pasir dan tepung terigu berwarna putih yang digunakan sebagai sumber makanan pokok.

E. Defesiensi Vitamin B1
Gejala dini defisiensi tiamin berupa neuropati perifer, keluhan mudah capai, dan anoreksia yang menimbulkan edema dan degenerasi kardiovaskuler, neurologis serta muskuler. Encefalopati Wernicke merupakan suatu keadaan yang berhubungan dengan defisiensi tiamin yang sering ditemukan diantara para peminum alkohol kronis yang mengkomsumsi hanya sedikit makanan lainnya.
Lima tahap perkembangan defisiensi vitamin yang dijelaskan oleh Brin pada tahun 1964.  Pada tahap awal, ketersediaan tiamin yang tidak memadai karena kesalahan diet, malabsorpsi, atau metabolisme abnormal mengarah dalam bentuk hilang atau berkurangnya tiamin urin. Yang kedua, atau tahap biokimia, aktivitas transketolase berkurang secara signifikan. Di tahap ketiga, atau fisiologis, berbagai gejala umum berkembang, seperti nafsu makan berkurang, susah tidur, peningkatan iritabilitas, dan malaise. Pada tahap keempat, atau klinis, konstelasi gejala spesifik klasik untuk penyakit defisiensi tiamin (beri-beri) berkembang, termasuk klaudikasio intermiten, neuritis, bradikardia, edema perifer, pembesaran jantung, dan ophthalmoplegia. Pada tahap kelima, atau anatomi, perubahan histopatologis karena kerusakan struktural seluler terlihat, seperti hipertrofi jantung, degenerasi granula lapisan luar pada otak kecil, dan pembengkakan mikroglia otak. Perlu dicatat bahwa 3 tahap pertama tidak melibatkan tanda-tanda spesifik defisiensi
Ada 2 manifestasi utama defisiensi tiamin: penyakit kardiovaskular (beri-beri basah) dan penyakit sistem saraf (beri-beri kering  dan sindrom Wernicke-Korsakoff). Adapun Wernicke – Korsakoff syndrome adalah penyakit kekurangan tiamin yang paling sering terlihat pada Belahan bumi barat. Ini terutama mempengaruhi pecandu alkohol karena sejumlah alasan: (a) pola makan mereka biasanya buruk; (B) diet kaya akan karbohidrat (misalnya, alkohol atau beras) meningkatkan metabolisme  tiamin; (c) alkohol menghambat ATPase usus, yang terlibat dalam penyerapan tiamin; dan (d) magnesium, yang diperlukan untuk mengikat tiamin ke dalam enzim sebelum aktivasi, biasanya habis dalam proses alcoholistik.

F. Kebutuhan Harian Vitamin B1
            Kebutuhan akan vitamin B1 setiap orang berbeda-beda, berikut dijabarkan rekomendasi kebutuhan akan vitamin B1 berdasarkan umur dan jenis kelamin seseorang.
Tabel 1. Rekomendasi Kebutuhan Harian Tiamin
Mg
Bayi dan anak-anak
Lahir hingga 6 bulan
0,3
6 bulan-1 tahun
0,4
1-3 tahun
0,7
4-6 tahun
0,9
7-10 tahun
1.0
Remaja dan dewasa
Laki-laki
1.2–1.5
wanita 
1.0-1.1
Wanita hamil
1.5
Wanita menyusui
1.6

SUMBER

Vivi Triana, Macam-Macam Vitamin Dan Fungsinya Dalam Tubuh Manusia, Jurnal Kesehatan Masyarakat, September 2006, I (1)
MinJiao Chen, Ming Jiang, ZhiHong Guo, The thiamine-dependent enzyme of the vitamin K biosynthesis catalyzes reductive C-N bond ligation between nitroarenes and α-ketoacids
Aviva Fattal-Valevski, Thiamine (Vitamin B1), Journal of Evidence-Based Complementary & Alternative Medicine 16(1) 12-20.


Posting Komentar

0 Komentar